Untuk mencari Siapa yang Pertama bertanggung jawab terhadap banjir yang melanda Jakarta mungkin bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami.semua pihak akan menghindar dengan segala macam alibinya baik itu pihak pemerintah maupun pihak masyarakat ,Aksi saling tuding dan saling tunjuk akan menjadi tontonan yang seru, menuding masyarakat karena buang sampah sembarangan, menuding spekulan tanah yang bermain dibalik pembebasan tanah hingga tidak adanya kejelasan grand masterplan kota yang katanya paling wahid.
Efek saling tuding tidak hanya terjadi pada permasalahan banjir di Jakarta ,jika kita menyaksikan acara TV yang penuh dengan acara-acara debat maupun diskusi terlihat nyata, saling tuding dan saling tunjuk merupakan senjata pamungkas yang akan digunakan jika telah terpojok untuk menghadapi pertanyaan, Siapakah yang bertanggungjawab? Tidak ada satu pihak pun bersedia menjadi pihak pertama yang menyatakan bertanggung-jawab akan segala permasalahan tersebut.
Barangkali sudah terbiasa untuk saling tuding dan akhirnya ditudinglah pihak yang kadang tidak tahu menahu bahkan tidak terkait dengan inti permasalahan , tiba-tiba terciptalah sosok ‘kambing hitam’ untuk dijadikan tumbal sekedar untuk sebagai penyelamat sementara.
Dikota besar seperti Jakarta permasalahan banjir bukanlah suatu barang yang baru untuk dirasakan,banjir tanpa di nantipun akan datang rutin setiap tahun bahkan kini telah menjadi santapan sehari-hari jika hujan lebat mengguyur kota Jakarta ,maka banjir dan kemacetanpun akan terjadi. Permasalahn banjir tidak hanya memberikan kerugian yang sangat besar dalam hitungan materil juga moril,terlebih banjir telah memberikan rasa malu pada harga diri bangsa dimana seorang presiden harus berganti mobil di jalan protokol ibukota Negara yang besar.
Mungkin kita terlalu enggan untuk menjadi pihak pertama yang disalahkan dan harus bertanggungjawab akan permasalahan yang terjadi di ibukota,mulai dari permasalahan monumen tiang pancang, permasalahan kemacetan akibat pembangunan busway,permasalahan sampah yang berakibat tersumbat dan mendangkalannya kali di ibukota.siapa yang mau jika dipersalahkan jika semua itu terjadi karena kebobrokan system birokrasi.
Sudah saatnya tidak lagi saling tuding di gunakan dalam setiap permasalahan,sudah saatnya tidak lagi sibuk mencari pihak pertama yang menjadi titik pangkal permasalahan,karena akan banyak memakan waktu dan terlalu banyak energi yang terkuras untuk hal yang sia-sia.
Kini saatnya untuk kita semua elemen warga kota berani untuk menjadi orang yang pertama tidak membuang sampah di kali,orang pertama yang berani berkata tidak untuk korupsi,orang pertama yang berani untuk tertib dijalan raya .
Berani menjadi orang yang pertama bertindak sebagai penjaga lingkungan di kehidupannya
Siapa berani…????






No comments yet
Comments feed for this article