Umpatan berbalas umpatan menjadi hal yang biasa jika menjelang musim hujan di jalan-jalan jakarta,umpatan dari pejalan kaki yang terkena cipratan genangan air yang muncrat akibat kencangnya pengendara motor yang melintas dan menggunakan jalur pedestrian sebagai ’jalur resmi’ alternatif dilanjtkan dengan umpatan dari pengendara motor kepada pengemudi kendaraan roda empat yang seakan tidak ingin memberikan jalan bagi pengendara motor untuk ikut berdesakan di kemacetan jalan raya. Di sisi lain terdengar umpatan pengendara mobil kepada sopir bus angkutan umum yang berhenti atau berbelok tanpa pemberitahuan terlebih dahulu untuk mengambil ’rejeki’ dari pejalan kaki yang tidak menunggu pada halte yang telah tersedia.
Berbalas pantun yang harusnya merupakan keindahan budaya bangsaberganti seketika menjadi berbalas umpatan yang berisikan kata-kata tidak pantas penuh dengan aroma kebencian,dan semua itu terjadi manakala hujan melanda jakarta.
Berbagai komentar,pendapat dan analisa dan seribu teori ampuh dikumandangkan dari para pakar di beberapa stasiun TV swasta maupun pemerintah untuk dapat mengatasi permasalahan kemacetan jalan di kota jakarta ,tapi semua itu akan menjadi ’barang usang’ jika kita berada pada situasi di jalan jakarta pada saat hujan. kecerdasan dalam menggunakan bahasa indonesia dengan baik dan benar menjadi ’kecerdasan’ menggunakan kalimat umpatan.dan kadang akan berlanjut dalam situasi percekcokan antar penggunan jalan yang kadang berakhir dengan proses baku hantam.
Ketidak disiplinan dengan keegoaan manusia pengguna jalan di kota jakarta menambah keruwetan kemacetan yang terjadi,semua ingin mencapai ketempat tujuan dengan cepat walau dengan berbagai cara.melanggar peraturan lalulintas,lewat jalan-jalan tikus di kawasan pemukiman menjadi satu solusi yang akibatnya penghuni pemukiman berlomba-lomba membuat portal penghalang dan mengakibatkan ’polisi tidur’ pun menjadi bertambah dan menambah proses kemacetan menjadi bertambah.
Logika konsep penggunaan jalan secara bergilir menjadi’ konsep ampuh’ yang di dengungkan pejabat pemerintah daerah,memang konsep seperti itu akan menjadi penyembuh sementara jika terjadi pada situasi pengguna jalan yang jumlahnya tetap,akan tetapi akan menjadi ‘konsep dagelan’ jika pengguna jalan tetap bertambah, pertumbuhan pengguna jalan akan terus tumbuh dalam situasi berbeda. konsep pemakaian jalan bergilir ini akan tawat riwayatnya jika para pengguna jalan tetap akan menambah jumlah kendaraan dan tetap mengikuti ego masing-masing tanpa kesabaran dan kedisiplinan berkendaraan.
Budaya untuk sabar dalam antrian di jalan raya perlu menjadi solusi dengan meciptakan satu program untuk menjadi program stimulasi kearifan berkendaraan di jalanan,merubah alat pergerakan lalulintas dalam kota dengan bersepeda dan berjalan kaki juga dapat menjadi solusi alternatif ditunjang dengan peningkatan dan perbaikan fasilitas angkutan umum yang telah ada untuk menjadi prioritas dalam kebijakan pemerintah daerah.
Secara makro, penataan dan penertiban fungsi ruang dari satu kawasan perkotaan perlu konsistensi daripada kebijakan pemerintah daerah.masterplan kota haruslah menjadi pedoman acuan yang tidak dengan sengaja dilanggar.
Emang mata lu dimana ? Mata gue udah gue serahin keahlinya…!!!!






No comments yet
Comments feed for this article